Pupuk, Gunting Kuku, dan Telkoms*l

Kebutuhan pokok manusia bermacam-macam, tidak cukup jika hanya dibagi menjadi tiga saja.
Sandang, pangan, papan itu kebutuhan manusia primitif.

Sekarang jaman sudah berubah, untuk tetap melanjutkan hidup yang layak pun manusia membutuhkan berbagai hal.

Anak muda membutuhkan kuota, kuota biar terus update dengan perkembangan informasi yang ada, kuota biar bisa kepoin si dia, kuota biar bisa dapet jodoh di sosial media. Tanpa kuota, ya udah jadi primitif lagi. Bahkan mungkin akan tidak dianggap keberadaannya lagi. Wow.

Lalu para orang tua membutuhkan uang, uang didapatkan dari usahanya. Uang digunakan buat beli makan, bayar cicilan, bayar sekolah anak, dan juga buat modal usaha lagi. Tanpa uang kehidupan terancam, pertengkaran dalam rumah tangga tidak bisa terelakkan. Istri butuh uang buat membeli kebutuhan makan keluarga, anak butuh uang buat bayar sekolah dan buat beli kuota, lalu akhirnya uang pun harus didapatkan bagaimana pun juga. Artinya mau tidak mau uang menjadi suatu kebutuhan pokok.

Termasuk para petani pun butuh uang, meski uangnya bukan untuk ditanam. Tapi ya tentu saja, apa-apa juga sekarang beli. Mulai dari beli pupuk, beli alat cangkul, beli obat hama.

Namanya kebutuhan kadang bisa didapat dengan usaha, kadang ada juga yang di luar jangkauan kita. Seperti gunting kuku, kalo lagi dibutuhin mau usaha sekeras apapun yah kalo lagi ngilang ya udah ilang, ga bisa diketemuin. Entah sembunyi dimana.

Kalau gunting kuku kan barang kecil, jadi patutlah kalau ilang. Nah sekarang ada yang aneh, bendanya besar. Segede karung lah. Warna bungkusnya juga putih. Tapi kok susah dicari ya. Benda apa hayo?

Iya betul, Pupuk.


PUPUK PHONSKA LANGKA



Di desa saya, serta banyak desa sekitar sedang musim tanam. Yang dibutuhin dalam musim tanam padi ini adalah pupuk. Tapi kok ya malah ngilang, dimana-mana ga ada.

Sebulan lebih bertanya ke toko langganan katanya belum ada barang.
Lalu coba tanya ke toko sebelah, eh ga ada juga.
Coba berkelana ke desa sebelah, ga ada stok juga.
Lah, kok bisa?

Ini adalah hal yang aneh tapi menjadi kebiasaan di tempat saya.
Tahun-tahun kemarin pun begitu. hingga saatnya waktu tanam pun pupuk masih belum ada.

Yang jadi pertanyaan apakah hal ini akan terus terulang lagi? Sampai kapan?

Hmmm.. dan akhirnya baru kemarin ketika kabar ada beberapa stok pupuk di kecamatan sebelah para petani mulai berbondong bondong mengangkutnya, membelinya. termasuk saya karena bapak saya yang juga petani menyuruh saya untuk membeli pupuk di kecamatan sebelah.

Saya dapat kabar bahwa harga pupuk tidak naik.
Hoh, baguslah. Kan memang peraturan dari pemerintah harga eceran tertinggi harus dipatuhi. Kalau sampai ada yang berani menjual dengan harga mahal, bisa bisa kena sanksi.

Tapiiiiiii.

Rupanya ga bagus sepenuhnya.

Entah belajar dari mana, pupuk tiba-tiba menerapkan strategi menjual paketan.

Jadi kalo pengen beli pupuk Phonska (yang sedang langka ini) diharuskan sekalian beli pupuk Organik.

Itu kalo di toko yang ono..Sedangkan di toko ini kalo beli Phonska harus sekalian beli pupuk ZA. Loh kenapa kalau beli pupuk Phonska harus beli pupuk Organik atau juga ZA? Kan petani lagi butuhnya Phonska?

Ya itu, saya yang agak tergelitik dengan hal ini memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu penjual ini yang letaknya di kecamatan tetangga.

Begini dialog kita.

Pak, deneng angger tuku pupuk phonska kudu sisan tuku pupuk ZA?
Pak, kenapa kalau beli pupuk phonska harus sekalian beli pupuk ZA?
Iya, kye anu wis aturan pemerintah.
Iya ini sudah aturan pemerintah
Oooh aturan pemerintah.
Oooh aturan pemerintah
Iya jenenge tanaman kan butuh pupuk sing lengkap, makane program kye men tanamane olih pupuk sing lengkap. dadi hasil tanine maen.
Iya namanya tanaman kan butuh pupuk yang lengkap, makanya program ini agar tanaman dapat pupuk yang lengkap, jadi hasil taninya bagus.

Ya seperti itu kira-kira obrolan kita.

Tapi nih ya, kemudian saya coba browsing di situs kementerian perindustrian republik indonesia kan disana membahas aturan tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian.

Di situ tidak ada pasal yang merujuk pada tindakan dari penjual itu. yang menjual “pupuk paketan”.

Terus dipikir-pikir lagi ya kok bisa beda toko aturannya beda, yang satu sepaketnya sama pupuk organik, yang satu lagi sama pupuk ZA.
pupuk dijual paketan

Hmmmm, sebagai orang bawah ya gimana lagi. Sedang butuh, mau ga mau akhirnya dibeli juga.

tadinya bisa cuman ngeluarin uang 125 rb karena ada paketan itu jadinya perlu ngeluarin uang 200 rb.

kalo dipikir-pikir kayak telk*msel ya.
yang di butuhin kuota data aja, eh dibikin sepaket sama kuota nonton. Padahal kan ga butuh kuota nonton.

Duh, sebagai konsumen jadi serba bingung.
“Mau beli -> jadi mahal”
“Beli cuman yang dibutuhin -> ga boleh harus sepaket”

Jadi akhir kata, semoga para SARJANA Pertanian, atau SARJANA apapun lah di Indonesia juga ikut berfungsi di situasi seperti ini. Ga kayak saya yang baru bisanya nulis cerita di blog ini saja. eh saya belum sarjana ding, belum lulus hihihi..
Semoga artikel ini bermanfaat.

Share ya